11-6-2020 Cuma Rindu
Pernah menulis begini untuk di post di facebook tapi sampai waktu berlalu hanya ngendap di catatan HP. Titip di sini, untuk jadi kengan bahwa rindu itu hal yang sangat sulit ditahan, namun lebih sulit diungkapakn.
==============
#NostalGILA #jikanggaksukabacajanganbaca
#kepanjanganjadistopsekarang
#inihanyacurcol
#abaikan
#heiiisudahdisuruhabaikanmasihbaca
#yaserahludeh
#makasihsudahbaca
#cumamaubilang
#kangen
Haiii man teman, apa kabar?
Dari 2017 abai (jarang buka dan posting, kadang-kadang buka, itu cuma beberapa menit dan ngebaca yang lewat-lewat aja), mulai sekarang mungkin akan suka spam lagi (maafkan ya), 😄
Kangen juga rasanya buat catatan dan posting pemandangan, dll. Heheh. FB ini perna beberapa kali mau dihapus tapi nggak jadi mulu. Kok ngerasa sayang. Cuma teman-temannya yang dirapikan (ya lelah, tapi ya gitu, biar apa ya? Em mungkin proses diri kali, entahlah)
Thanks untuk seluruh teman yang sudah jadi teman 11 tahun ini. Sudah banyak fase dilewati. Dari yang alay sampai tua gini (masih alay kayaknya, ni buktinya nulis ginian, wkwk)... #sorry
Setidaknya nulisnya udah nggak "serah-serah gue", singkat sana sini, campur-campur huruf kapita kecil angka dan ya gitu lah... (Tapi bahagia ya waktu itu,)--fase awal pakai FB.
Terus masuk fase belajar nulis, sampai teman RP dunia maya jadi teman dunia nyata. Dari Aceh sampai Papua. Haii, teman-teman Astraff. Hai para sesepuh (gitu kata anak baru pada kita), wkwk. Kuliah semester 3 kalau nggak salah waktu itu. Praktikum Lab aku sudah nggak seabrek 1 tahun pertama. Karena tabungan aku menipis. Kuliah, kerja, nulis. Menikmati banget.
Dan waktu titik berat terjadi sama kehidupanku, kehidupan keluargaku, sampai aku yang punya kekekehan buat pendidikan itu penting berceletuk "Mama aku, stop dulu deh, setahun, jadi nanti bakalan nunda kelulusan setahun deh" Curhatku waktu itu. Karena aku benar-benar terpukul waktu itu sampai udah nggak bisa mikir jalan keluar selain itu, bahkan udah nggak mau balik ke Samarinda lagi. Pengen dekat keluarga aja.. Teman-teman terus ngakabarin ini dan itu tentang kampus, teman-teman dekat semasa sekolah juga selalu nanya kabar dan motivasi aku. Akhirnya setelah sebulan (padahal waktu izin ke program studi cuma seminggu) lebih di kampung. Aku tetap kuliah. Tapi cara aku bermedia sosial dan cara berinteraksi aku dengan orang jadi berubah. No FB, nulis Blog, dll. Aku juga No organisasi kampus. Tapi sekali-kali masih suka jadi relawan. Aku kembali ke jiwa serius (?), hahah.
Aku keluar dong, meskipun sering ngintip-ngintip dikit. Pagi buat kuliah, siang kerja sampai malam, tengah malam ngerjain tugas, subuh sebagian dimanfaatkan baca buku, masak di kos aktivitas kudu dilakukan. Gitu terus. Sampai akhirnya aku terbiasa. Sampai waktu berlalu gitu aja. Dan ternyata keadaan dan proses waktu menjadikan semuanya jadi biasa saja untuk kita. Tapi efek dari itu yang saya rasain sekarang. Teman saya bisa dihitung jari yang nemenin sampai sekarang. Tapi benar-benar teman susah senang, semoga dunia akhirat juga. I love u guys. Karena aku juga tidak begitu ikut kegiatan kampus setelah semester 3, kecuali tuntutan himpunana dan benar-benar tertarik, tapi kalau event seminar aku suka. 😍
Bersyukur banget sempat diakhir- akhir masa kuliah sama teman-teman kami ngadain event nasional dan itu kegiatan yang dilakukan oleh UKM baru. Thanks guys sudah jadi bagian proses hidup ini yang luar biasa. Sukses di manapun berada.
===
Perubahan itu terjadi disemester 3. Mungkin ya selain faktor keadaan. Aku ngerasa emang di 1 tahun pertama, terutama semester 1 di masa mahasiswa baru itu, aku ngerasa nggak terima masuk jurusan Fisika (Meskipun SMA ikut olimpiade atau jadi pilihan pertama saat tes). Aku serius banget belajar, sampai sakit-sakit pula tapi nggak menikmati. Masih nggak terima gitu jadi anak Fisika yang di kenal serius, padahal ya aku emang serius, kecuali sama orang-orang dekat, dianggap konyol bahkan gila. Hahah. Masih ngumpul. Masih organisasi. Masih jadi panitia. Meskipun lebih banyak diam mulut. Otak dan fisik yang kerja.
Semester 3 memang jadi titik balik aku. Dan waktu itu juga pas aku juga pindah kos. Dan isinya, aku paling muda guys.
Isinya cewek-cewek beda usia, beda fakultas. Eh, ada 1 teman sekelas aku di Fisika, dia sama kakaknya yang kuliah bahasa. Ada ekonomi, Kesmas, Biologi, Farmasi, dll. Pokoknya jadi keluarga.
Selain lebih nyaman di kos buat istirahat, atau ngejalanin hobi (baca), perpustakaan kampus bagi Aku waktu itu belum senyaman sekarang, perpustakaan provinsi jauh, dan aku selama kuliah selalu dalam mode menghemat. Ketika ada waktu kubuat diriku larut dalam buku-buku, lebih memilih tempat sunyi, tak jarang di kamar kos berjam-jam tak bersuara. Jadinya Aku jarang jalan. Aku jarang ngumpul lagi. Aku jarang duduk-duduk di kampus. Selesai kelas langsung pengennya pulang kos siap kerja atau kerjakan tugas. Atau ikut seminar gitu. Tidur siang nggak terbiasa dari kecil. Yang ada malah insomnia yang terjadi, bahkan sampai sekarang, karena kebiasaan begadang yang dulu. Hahah,
Sebenarnya, aku memang dari 2010 juga menggunakan berbagai media sosial, bukan untuk gayaan sih, tapi lebih ke punya banyak teman untuk berdiskusi banyak hal, dan tentu niatku untuk belajar sesuatu.
Lama-lama merasa kesepian tanpa media sosial. Balik FB dan beda Fase lagi. Beda kehidupan. Sukanya posting pemandangan dan The real kehidupan yang aku lihat, misalnya; Aku libur kerja udah nggak ada kegiatan di kampus, nggak ada agenda relawan, semua tugas selesai. Aku bakalan jalan ke mana aja, ke taman atau tempat-tempat yang memungkinkan. Terkadang pergi makan. Duduk baca buku (pas bawa), kadang cuma sekedar duduk perhatikan orang-orang. Ada yang menarik foto dengan HP seadanya. Posting dan bumbuhi cerita dan pesan.
Ada Fase FB aku gunakan khusus untuk membaca aja dan masuk komunitas bisa menulis. Ikutin challenge, berbulan-bulan dan sampai dapat sertifikat. Wow waktu itu. Tapi aku nggak serius pengen banget, dan akhirnya kesempatan bisa menulis dengan baik (rutin konsul atas karya sendiri langsung dengan penulis) terabaikan man -teman.
Kalau boleh jujur aku sangat suka menulis. Namun keadaan membuatku harus bekerja dan belajar menganggap tak punya waktu untuk serius menulis. Bahkan saat aku kerja di salah satu tempat sebagai bagian yang bertanggung jawab membuat laporan keuangan dan itu sangat membuat jenuh. Ingin kuterima tawaran untuk menjadi salah satu tawaran menjadi wartawan magang di salah satu koran. Bahkan tawaran itu begitu cepat dengan fasilitas yang begitu menggiurkan. Namun dengan berat hati ku tolak atas pertimbangan bahwa aku harus fokus menyelesaikan kuliahku, bekerja saat itu hanya untuk bertahan bukan untuk sesuatu yang mengalihkan duniaku dan melupakan keinginaku menjadi seorang guru. Bekerja untuk menahan diri untuk tak semakin merasa bersalah merepotkan orang tua hanya untuk sebuah harapan besar bisa menjadi sarjana dan kelak mengubah keadaan, membuka gerbang untuk adik-adikku. Yah, akupun aku bisa melalui semua hal dengan pontang panting. Setidaknya aku selalu bersyukur menjadi kuat, meski
Kembali ke fase ninggalin FB. Waktu itu aku KKN di Tanah Tidung, kabupaten baru di KalTara (Kalimnatan Uttara). Serius, Nelpon aja temen aku harus rela-rela manjat. Waktu itu dapat desa yang emang segala akses pakai jalur air. Sinyal susah, air susah, sembako mahal penerangan cuma habis magrib sampai jam 10 malam pake mesin. Sekarang udah maju desanya. 😍
Pulang KKN masih belum pakai FB, karena aku gagal ambil PPL di semester selanjutnya (sudah daftar sebelum KKN, tapi setelah KKN, sakit hampir sebulan di rumah, aku tidak daftar). Aku sibuk kerja di beberapa tempat. Waktu selain kerja memang tersisa hanya untuk kuliah beberapa mata kuliah yang tersisa. Waktu itu, pikiran aku fokus ke dana, karena bentar lagi masuk ke kehidupan mahasiswa akhir. Saat semester depan kesempatan buat PPL yang tertunda dan sekaligus skripsi, rencana aku. Jadi dimanfaatkan kesempatan buat benar-benar ngumpulin pundi-pundi, kebetulan tabungan juga menipis. Dan pantang untuk meminta orang tua ketika tidak terpaksa. 😁 (selain gengsi, aku tau kok keadaan mereka, ya aku harus tau diri guys). Lagipula aku sudah terbiasa kerja sambil kuliah dari semester awal-awal.
Ketika PPL, semua siswa SMA itu minta media sosial aku, nah lol, karena terus dimintain. Aku aktif di dunia maya lagi. (Eh, bersyukurnya karena itu aku sekarang masih bisa lihat anak-anak itu sukses, bahkan ada yang sudah lulus S1 dan dapat penghargaan robotika nasional dan internasional), bangga dong. 😄
Oia, karena FB sekarang ngingetin kenangan juga, anak-anak ini jadi suka bagi foto-foto lama. Bahkan sering nyapa dan nanya kabar. Jadi terharu.
Sama halnya terharu, ketika lulus kuliah ke Papua. Ngajar di sana, dengan berbagai keterbatasan, jangankan mainan FB, ngeliatin postingan aku tentang mereka (curi-curi kesempatan saat ke kota dan ada sinyal). Sepatu dan buku tulis aja nggak punya. Tapi sekarang mereka nyapa aku di FB, ngirim Messenger ke aku. Dan akhirnya aku bisa ngeliat langsung, dan jadinya kangen masa-masa hidup bareng mereka. Tiap hari sama mereka dan waktu itu banyak ku abadikan di FB juga. Setiap hari aku nulis note di HP atau sering kali dibuku sih, dan ketika ada kesempatan barulah aku post. Sayangnya ketika pulang dari sana, malah aku nggak serius buat publik semuanya. Dokumentasi, cerita bahkan ngelanjutin projek buku yang sudah ku tulis 150 lembar. Aku nggak bermedia sosial. Aku sibuk ngurus ini itu, ke sana kemari, dokumen keluarga yang belum lengkap sejak rumah terbakar 2012 silam. hingga akhirnya aku PPG dan PPL lagi, penelitian lagi, dll. Dan dwaaarrr. Hardist aku rusak total. Dan aku nggak punya kenangan bareng mereka selain yang di post di FB dan blog. Yepp. Sekarang udah bisa pasrah, ngengiklaskan, cukup dalam ingatan dan komunikasi dengan mereka. Sumpah deh. Jadi kangen Timur Indonesia. FB ngingetin sih postingan masa-masa itu. Setahun di sana, FB jadinya sepanjang setahun ngingetin. Hehehe.
Dari 2017 itu selesai PPG dan kembali kedunia sesungguhnya, dunia kerja, relawan, dan pulkam, membuatku acuh terkadang FB. Isinya jadi aneh-aneh sih. Yang lewat di beranda juga gitu, ya gitu deh, kalian paham lah, FB dihuni dengan orang seperti apa. Dari situ nengok FB cuma bentar, terus luangin waktu bentar liat beranda, nemu yang aneh, dan kurang faedah buat aku, liat orangnya, perhatikan isi FBnya, dan unfriend #ohsorry untuk ini, hampir setengah teman. 4000-an, sisa 2.000-an. Ini pun misi pengurangan (jumlah maksudnya) teman belum selesai. Kenapa dihapus teman dipilih ketimbang buat FB baru. Karena akun ini banyak kenangannya. Hahah. Sorry nggak bisa move on. Dari masa jayanya FB dan masa damainya dunia sosial. Sekarang di mana-mana rasanya ya gitu... Kalian paham lah. Harus selektif dalam bermedia. 😄😂 Media apapun itu. Ada UUT nya dan ada banyak spam dan Hoax sih. Jadi pandai-pandai kita aja lagi untuk pemanfaatan nya.
Komentar
Posting Komentar