[28-06-2020] See You
Marmut itu memang lucu.Maka kata Kawaii itu spontan ku komentari story instagram mu. Ah, kamu malah ngelucu balasnya...
Dan akhirnya kamu bilang, "Hadiahnya apa nih klw betul.."
Aku serius nanya, "Mau apa?"
"Nah pertanyaan sulit nih,...
mau jadi anak Shaleh aj deh.."
Nah, itu bagus banget. Menjadi impian siapa saja. Hingga pembahasan panjang tentang doa adalah hadiah sederhana yang tak memberatkan namun sangat berarti. Kita saling mendoakan.
"Hadiah kan sesuatu yg diberikan dari seseorang untuk orang lain... Mendoakan orang lain pun termasuk hadiah juga kan.."
"Okey... Hadiahnya doa...
Semoga jadi anak shaleh dan punya keturunan shaleh pula... Semoga dipermudahkan langkahnya dalam setiap kebaikan... Dilancarkan setiap urusan dan harapannya."
Kau tau waktu itu, paling tidak aku akan menawarkan sketsa wajahmu, andai kau katakan terserah. Namun dibalik itu, ada sedikit harap kau memberi kode bahwa kau menyukaiku, namun lupakan tentang itu semua. Doa aku rasa hal yang memang lebih layak diberikan untuk siapapun. Itu tulus.
"Aamiin ya Rabbal Alamin... Makasih loh sdh di Do'a... Aku Do'akan juga deh...
Smoga Allah Aja wa jalla senantiasa mempermudah urusanmu, melancarkan rezekimu, dan mendekatkan pada jodoh yg terbaik.. Semoga Allah Aja Wajalla senantiasa mendengar semua doa-doamu.."
Kau tau? Aku begitu bahagia atas doa itu. Dan maafkan aku yang lancang. Menyebut namamu dalam hatiku, ketika membaca balasan itu.
"Aamiin ya Rabbal Alamin.. 
Terima kasih. Saling balas doa, hal yang tidak memberatkan tapi berarti kok...
mendoakan orang hal baik akan kembali ke diri sendiri... 
"
Kau setuju itu...
"Yup betul banget..
"
"
"
Dan, kita mulai bercerita tentang hal lain. Kau bilang tesismu tinggal tahap akhir. Ku doakan agar berjalan lancar. Ku katakan aku lebih senang mengajar langsung. Kita berdoa agar semua ini cepat berlalu, wabah cepat berlalu. Kau doakan agar aku segera bertemu dengan para siswa ku, itu sedikit menghibur di kala lelah seperti ini.
Kita tutup percakapan itu dengan lucu. Kau ucapkan salam. Dan See you next time.
Sontak aku bersedih. Kalimat itu seperti berpamitan, aku terlalu khawatir menjadi pengganggu mu selama ini. Tapi memang hanya aku saja yang berlebihan. Toh. Akhirnya aku sadar dan menutup percakapan.

Komentar
Posting Komentar