[25 - 06 -2020] Jujur, Aku Sangat Senang

Aku, kaget dan senang...

Hari ini tiba-tiba kamu tidak hanya memberi hati pada postingan instagramku, kau juga memberi 1 kata (wonderful) pada hasil karyaku...
Ingin sekali ku balas tapi tak bisa kulakukan itu, aku pengecut yang tak ingin jika hal itu kulakukan akan dilihat olehnya (seorang teman yang jelas kutau menyukaimu), maka biarkan hingga berganti hari. Tapi aku jadi gelisah. Maka ku klik saja lambang hati di samping komentarmu. Ah, aku ingin bersikap acuh padamu. Beberapa kali aku berhasil untuk beberapa hari mengabaikan inginku menyapa atau sekedar mengintip keadaanmu dan yang kau lakukan, namun jika kau yang datang aku tak sanggup mengabaikan. Kau pun hadir di setiap postingan Facebook. Kau pun menyapa di whatsapp dengan bumbu "Dek... "


Aku tersenyum senang. detik kemudian sadar.

Tolonglah, waktumu limit kini. Karena doaku pun sudah berganti pasrah. Aku yang kadang kala sangat baik dalam menekan diri, agar tau diri. Hingga harus menekan rasa pun dengan batas waktu. Meski aku kerap sangat bersusah payah untuk hal itu. Percayalah. Aku ahli mengikhlaskan banyak harapanku yang akhirnya harus ku ubah arah.
Aku mungkin tak harus seperti ini, aku tak bisa untuk melanggar prinsip, "wanita diam (kata), menunggu, mengikhlaskan"
Kita memang tak pernah sedekat itu, tak selayaknya kawan yang pernah bertemu atau bersama, karena memang kita hanya sekedar hanya saling tau. "Oh, ada mahluk ciptaan Tuhan yang seperti ini,... "
Bertanya sesekali jika ada yang membuat penasaran. Ah, lebih tepatnya aku yang kadang tak tahan untuk menanggapi atau sekedar bertanya untuk memulai diskusi yang kerap menjadi pembahasan debat, pembahasan serius, kaku dan ujung-ujungnya hanya perang ekspresi dalam gambar-gambar itu.

Saling membalas pesan dengan jeda waktu lewat dari hari. Karena kita memang tak seakrab itu. Atau aku yang tak tau cara mengakrabkan diri, kau telah memberi kode bahwa kau orang yang lucu, tapi tetap saja aku selalu berhati-hati padamu.
Aku yang sedang berusaha membangun persepsi baikmu padaku atau aku yang malah terlalu pesimis untuk maju selangkah... Selangkah... Dan selangkah.. Dan akhirnya kerap memilih berada di tempat yang sama, posisi yang sama, dan menjadi sosok yang pasrah mengikuti arus tanpa usaha maksimal berenang mencapai tepi agar kau bisa melihatku dan menolongku dengan mengulurkan tangan, menggenggam erat agar tak terbawa arus kembali.
Ah, aku tak tau. Sering kali pikiran dan hatiku bertentangan. Tapi meski rasaku berarti tentu saja aku harus berlogika dengan baik. Dan itu sering kali menyakitkan, aku tau itu langkah yang salah. Karena dalam takdir, yang harus kita lakukan percaya setiap harap, doa dan mengusahakannya terwujud dengan optimis.
Mulai hari ini aku kembali tak menyebut siapapun dalam doaku. Pasrah dan menunggu dengan sabar, jalan yang ku pilih. Jika memang engkau yang Tuhan pilihkan, maka semoga jalanmu dimudahkan dan datanglah diwaktu yang tepat.

Komentar